Kapan Harga Emas Mampu Tembus Rp. 900.000/Gram?
Harga emas dunia menguat pada perdagangan Selasa kemarin
(19/11/19) merespons pernyataan China terkait perundingan kesepakatan dagang
dengan Amerika Serikat (AS).
Mengacu data Refinitiv, harga emas diperdagangkan di kisaran US$ 1.471,01/troy
ons pada pukul 14:02 WIB di pasarspotpada Selasa
kemarin. Sementara pada Senin sebelumnya, harga emas duniareboundke level US$ 1.470,75/troy
ons atau menguat 0,25% setelah sebelumnya sempat melemah 0,77%.
Logam mulia ini sempat melemah pada Senin lalu disebabkan laporan dari
media China,Xinhua, pada hari Minggu yang
mengatakan jika pembicaraan level tinggi kedua negara melalui telepon
berlangsung konstruktif. Pernyataan tersebut senada dengan penasihat ekonomi
Gedung Putih, Larry Kudlow, pada Kamis waktu AS, yang mengatakan negosiasi
dengan Beijing berjalan konstruktif, dan mengatakan dua raksasa ekonomi dunia ini
akan mencapai kesepakatan dalam waktu dekat setelah melakukan perundingan
intensif melalui telepon.
Sebelumnya, dalam 2 pekan terakhir, AS dan China selalu
melontarkan pernyataan yang kontradiktif. Baru pada akhir pekan lalu kedua
negara kompak menyatakan perundingan berlangsung konstruktif.
Dampaknya, harapan akan ditandatanganinya kesepakatan dagang dalam waktu dekat
semakin membuncah, selera terhadap risiko (risk appetite)
pelaku pasar menguat yang membuat aset aman (safe haven)
seperti emas menjadi kurang menarik.
Namun, harapan tersebut tidak lama langsung meredup kembali setelah China
dikabarkan pesimistis akan mencapai kesepakatan dagang dengan AS. Pasalnya,
Presiden AS Donald Trump menolak untuk menghapus bea masuk produk China ke
AS. "Mood di Beijing mengenai
kesepakatan dagang saat ini pesimistis akibat keengganan Presiden Trump dalam
menghapus bea masuk, dimana sebelumnya China percaya AS sudah sepakat akan
penghapusan tersebut," kata sumber dari pemerintah China sebagaimana dikutip
Eunice Yooh reporterCNBC International.
Sumber tersebut juga mengatakan China kini mengamati dengan seksama situasi
politik di AS, termasuk sidang pemakzulan dan pemilihan presiden 2020. Jika
perundingan dagang kali ini kembali gagal, bursa Wall Street di AS yang berada
di rekor tertinggi bisa mengalami aksi jual, dan emas bisa mendapat keuntungan
dari pelemahan bursa. Selain itu, kegagalan mencapai kesepakatan dagang
berarti perekonomian AS serta global akan sulit untuk bangkit atau bahkan
semakin melambat. Saat perekonomian AS memburuk, bank sentral AS (Federal
Reserve/The Fed) akan membuka lagi peluang untuk memangkas suku bunganya.
Ketika hal itu terjadi, daya tarik emas sebagai asetsafe haven akan kembali
meningkat, dan harganya berpeluang terbang kembali. Bank of America Merrill Lynch (BoA)
sebelumnya sempat memprediksi harga emas dunia bakal menembus US$ 1.500 per
troy ounce (oz) tahun ini dan US$ 2.000/oz tahun depan, dengan dibayangi
kekhawatiran terhadap resesi dan perang dagang AS-China.
Harga si kuning ini memang sempat beberapa kali menembus level psikologis US$
1.500/oz sejak awal Agustus 2019 dengan level tertingginya US$ 1.552/oz. Jika
menyentuh level US$ 2.000/oz, maka harga emas per garam berada pada kisaran Rp
906.000/gram. Perhitungannya ialah, satu troy ounce, mengacu aturan di pasar,
setara dengan 31,1 gram, sehingga besaran US$ 2.000 per troy ounce dikonversi
dengan membagi angka tersebut dengan 31,1 gram, hasilnya US$ 64,31 per gram. Dengan
asumsi kurs rupiah Rp 14.100/US$, maka prediksi harga emas yakni setara dengan
Rp 906.771/gram.
Harga emas investasi ritel kepingan acuan yang diproduksi PT
Aneka Tambang Tbk (ANTM/Antam) naik tipis dan kembali ke level psikologis Rp
700.000/gram pada perdagangan Selasa kemarin (19/11/2019) dari posisi Rp
699.000/gram di Senin. Naik tipisnya harga emas ritel itu terjadi ketika
hubungan politik dan ekonomi Amerika Serikat (AS)-China sedikit menghangat
kemarin.
Drama perang dagang kali ini terkait dengan China yang dikabarkan pesimistis terhadap
masa depan perundingan damai dagang fase pertama karena Presiden AS Donald
Trump masih resisten terhadap proposal penurunan tarif impor yang sudah berlaku
September lalu. Prospek damai dagang yang memudar itu dan potensi tidak
tuntasnya perundingan tahun ini meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar keuangan
dunia, sehingga normalnya investor dan spekulator semakin memburu komoditas
logam mulia tersebut dan menciptakan tekanan beli yang mengangkat harga emas
dunia.
Data di situs logammulia milik
Antam Selasa kemarin (19/11/19) menunjukkan besaran harga emas kepingan
100 gram berada pada Rp 70 juta/batang, naik dari Rp 699.000/gram pada Senin. Selasa
kemarin, harga beli kembali (buy back) emas
Antam di gerai resmi juga naik tipis Rp 1.000/gram menjadi Rp 665.000/gram dari
Rp 664.000/gram kemarin. Harga itu dapat menunjukkan harga beli yang harus
dibayar Antam jika pemilik batang emas bersertifikat tersebut ingin menjual
kembali investasinya. Naiknya harga emas Antam tersebut mengekor harga
emas di pasar spot global Senin lalu menjadi US$ 1.470,75 per troy ounce
(oz) yang naik dari posisi akhir pekan lalu US$ 1.467,11/oz. Kemarin, harga
emas masih turun menjadi US$ 1.469,36/oz.
Sumber : cnbcindonesia.com
Favoritkan
Kapan Harga Emas Mampu Tembus Rp. 900.000/Gram? - 88 Bangunan