2020, Nilai Konstruksi Kawasan Industri Melonjak Pesat 54,88%
Tahun 2020 tren pembangunan properti sub sektor kawasan industri bakal lebih menggeliat dibandingkan 2019. Bahkan, dari sisi nilai, konstruksi kawasan industri diprediksi melejit hingga 54,88%. ¡°Industri diperkirakan akan tumbuh signifikan pada tahun 2020 yang mencapai Rp 50,35 triliun,¡± ujar General Manager for Indonesia - BCI Asia Pietter Sanjaya,
kepada Investor Daily, saat dihubungi dari Jakarta, Sabtu (23/11). Angka pertumbuhan 2020 itu, mengutip data BCI Asia, lebih tinggi dibandingkan 2019 yang bertumbuh 32,47% dibandingkan 2018. Pertumbuhan tahun depan memuncaki tren industri dalam rentang lima tahun terakhir, yakni 2016-2020.
Secara umum, konstruksi kawasan industri terus bertumbuh, kecuali pada 2018 yang sempat turun 2,83% menjadi Rp 24,54 triliun. Menurut Pietter, pertumbuhan nilai konstruksi pada 2020 disokong oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah pertumbuhan bisnis pergudangan akibat dari permintaan fast moving consumer goods (FMCG). ¡°Lalu, didorong oleh pertumbuhan e-commerce, logistik pihak ketiga, dan investasi di sektor food and beverage (F&B) yang terus meningkat,¡± jelas dia.
BCI Asia memperkirakan, kenaikan signifikan konstruksi kawasan industri terjadi pada triwulan II-2020 dengan nilai total Rp 15,36 triliun. Meskipun kawasan industri berfluktuasi secara triwulanan, tetapi memperlihatkan peningkatan secara bertahap pada 2020. Secara wilayah, menurut data BCI Asia, nilai konstruksi kawasan industri yang terbesar pada 2020 ada di Kalimantan, yakni senilai Rp 18,36 triliun atau setara dengan 36,47%.
Lalu, Jawa Timur Rp 12,45 triliun
(24,73%) dan Jabodetabek (Greater Jakarta) Rp 7,38 triliun (14,66%).
Selanjutnya, kawasan Sulawesi, Maluku, dan Papua Rp 5,74 triliun (11,41%), Jawa
Barat Rp 3,02 triliun (6,01%), dan Sumatera Rp 1,76 triliun (3,51%). Selain
itu, Jawa Tengah Rp 1,36 triliun (2,70%) serta Bali-Nusa Tenggara Rp 259 miliar
(0,51%).
Gaya Hidup
Sementara itu, Head of Research & Consultancy Savills Indonesia, Anton Sitorus pernah mengatakan, Indonesia merupakan pangsa pasar online (internet) terbesar di Asia Tenggara sehingga memiliki potensi pertumbuhan ekonomi digital yang fenomenal.
Mengutip hasil survey dari Google-Temasek-Bain beberapa waktu lalu, kata Anton, potensi pasar ekonomi digital Indonesia yang mencakup sektor e-commerce, online media, travel dan transportasi meningkat lima kali lipat dari US$ 8 miliar pada 2015 menjadi US$ 40 miliar pada 2019 dan diperkirakan terus meningkat menjadi US$ 130 miliar atau Rp 1.900 trilun pada 2025.
Fenomena ekonomi digital tersebut sangat kontras dengan kondisi sektor bisnis konvensional yang dibayang-bayangi perekonomian global yang lambat. Menurut Anton, hal itu terjadi seiring perubahan tren gaya hidup konsumen yang semakin terkoneksi dengan internet yang semakin canggih dan menyentuh hampir semua aspek kehidupan masyarakat modern.
Seperti sektor bisnis lainnya, sektor properti tidak akan bisa menghindari dampak fenomena disruption yang terjadi. ¡°Saat ini saja, kita sudah melihat berbagai model bisnis baru yang menyaingi perusahaan properti konvensional, dimana cikal bakal usaha tersebut dilandasi konsep berbagi atau yang sering disebut sebagai sharing economy,¡± kata Anton. Terkait permintaan lahan di kawasan industri, Collier International Indonesia memperkirakan pada kuartal III-2019 ada peningkatan transaksi lahan kawasan industri (KI). Konsultan properti itu memperkirakan sampai akhir 2019 ada transaksi mencapai 273,6 hektare (ha). ¡°Dari hasil laporan para pelaku industri bahwa mereka bilang pada kuartal ketiga 2019 ada aktifitas yang cukup tinggi untuk sektor industri,¡± ungkap Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto, di Jakarta, baru-baru ini.
Dia mengatakan, permintaan yang cukup potensial pada masa mendatang masih dari sektor otomotif dan logistik. ¡°Permintaan potensial kemungkinan besar akan datang dari sektor otomotif dan logistik, namun kami juga melihat ada tren permintaan dari sektor barang-barang konsumen, baja, bahan bangunan, dan manufaktur ringan,¡± kata Ferry. Data Colliers menunjukkan bahwa dalam kuartal II-2019 transaksi untuk lahan kawasan industri di kawasan Jabodetabek menurun sebesar 17,03 ha dibandingkan kuartal sebelumnya. Namun sampai akhir 2019 diperkirakan ada transaksi mencapai 273,6 ha, sedangkan sepanjang 2019 sampai 2023 ada transaksi 267,2 ha. Ferry menjelaskan, suplai untuk sektor industri sampai kuartal II-2019 belum terlihat ada penambahan, namun diperkirakan sampai akhir 2019 ada suplai sebesar 55 ha. Suplai akan terus bertambah sampai akhir 2023 yakni sebesar 171,2 ha. ¡°Jadi pemilik lahan industri secara keseluruhan masih fokus pada penjualan sisa tanah yang mereka miliki dan hanya sedikit yang sudah dalam tahap pembukaan lahan untuk ekspansi selanjutnya,¡± kata dia. Sedangkan untuk harga lahan kawasan industri masih tetap stabil dan sampai akhir tahun diperkirakan bakal ada kenaikan sebesar 3% atau US$ 200,67 dan sampai tahun 2023 ada kenaikan sebesar 5,3% dengan harga US$ 221,62.
Sumber : investasi.co.id
Favoritkan
2020, Nilai Konstruksi Kawasan Industri Melonjak Pesat 54,88% - 88 Bangunan