Proyek Kereta Cepat Di Klaim 42%, Lahan Bebas Sekitar 99,9%
PT Kereta
Cepat Indonesia-China (KCIC) mengklaim konstruksi proyek kereta cepat
Jakarta-Bandung mencapai 42%. Sedangkan pembebasan lahan sudah mencapai 99,95%.
"Pembebasan lahan kita tinggal sedikit. Ada kesulitan apa ya
Dikoordinasikan dengan Pak Luhut (Menko Maritim dan Investasi), bisa men-support
kita banyaklah, kita sudah 99,95%, sisa sedikit sekali," kata Dirut KCIC
Chandra Dwiputra di Jakarta.
Ia mengatakan sisa lahan yang belum terbebas meski sedikit tapi persoalannya
macam-macam dan kompleks. "Ada yang kepemilikannya berubah, ada yang salah
cek luasannya berubah, salah ternyata. Jadi harapannya di bulan Februari
selesai semua," katanya.
"Bulan Februari kita selesaikan," katanya.
Chandra
mengatakan progres konstruksi fisik hingga akhir Januari 2020 sudah mencapai 42
persen. Namun, ia mengatakan pembangunan konstruksi fisik lain yang tak kalah
penting di luar konstruksi adalah sistem persinyalan kereta karena sangat
penting soal keselamatan.
"Ini kan masalah frekuensi mau seperti apa, jadi karena tadi ada kabar
baru, yang terus terang saya kaget. Sehingga harus saya cek seperti apa. Kalau
sinyal ada GSM ada LTE, nah ini ternyata di atasnya lagi. Jadi saya harus
pastikan dulu," katanya.
Frekuensi Kereta Cepat
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) ikut nimbrung di proyek kereta
cepat Jakarta-Bandung.Menkominfo Johnny Plate menjelaskan bahwa proyek tersebut
membutuhkan frekuensi radio pada saat operasional.
"Tugasnya kami menyediakan ketersediaan frekuensi dan memberikan izin frekuensi," katanya.
Ia menyebut, tidak semua frekuensi radio bisa dipakai untuk kepentingan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Karenanya, dia berkoordinasi dengan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) terkait kebutuhan ini.
"Hanya frekuensi tertentu saja. Nah secara detail itu dengan perusahaan Tiongkok. Nah kita sedang tunggu yang mana yang mereka pilih," bebernya.
Peralatan dan teknologi yang dipakai untuk menangkap frekuensi ini juga didatangkan dari China. Pihak pemerintah Indonesia hanya menyediakan ruang frekuensi saja.
"Harus milih. Radionya itu pakai frekuensi yang mana. Ibarat jalan, mau pakai jalan yang mana. Mau pakai jalan yang bawah, yang tengah atau jalan yang atas. Nanti mereka pilih," tandasnya.
Ia memastikan radio komunikasi yang dimanfaatkan proyek ini akan kompatibel dengan proyeksi teknologi masa depan.
"Yang sudah diterapkan di industri kereta api cepat dimana saja. Di China
sudah ada kok frekuensi di atas giga hrtz itu ada. Frekuensi tengah ada yang di
bawah lagi dicoba," bebernya.
Favoritkan
Proyek Kereta Cepat Di Klaim 42%, Lahan Bebas Sekitar 99,9% - 88 Bangunan